Jumat, 04 Agustus 2017

Bandung Dilanda Birahi

Bandung Dilanda Birahi

AGEN POKER TERPERCAYA - Meskipun sudah belasan tahun meninggalkan Bandung keterikatanku kepada kota kembang itu tak begitu saja lepas, terutama sesudah kegagalan rumah tagagqu. Dalem setahun aqu sempatkan 2-3 kali berkunjung ke Bandung bernostalgia bersama sohib-sohib yg tetap bertahan tigagl disana selepas kuliah. Meskipun kesemrawutan kota Bandung sedikit mengurangi kenyamanan tetapi tetap tak mengurangi keinginanku untuk berkunjung.

Banyak perubahan terjadi, Jl. Dago-juga daerah-daerah yg aqu sebut kota lama-Cipaganti, Cihampelas, Setiabudhi, Pasteur dan daerah lainnya yg hancur keasriannya demi “pembangunan” tetapi ada dua hal yg masih bertahan, makanannya yg enak dan bervariasi dan..perempuannya yg terkenal cantik. “Di Bandung, beberapa kali kita melangkah akan always bertemu perempuan cantik” anekdot sohib-sohib dan itu hampir sepenuhnya benar. Oktober 1998 dgn kereta Parahygan siang aqu berangkat ke Bandung, liburan “nostalgia” always aqu laqukan sewaktu weekday menghindari hingar bingar Bandung sewaktu weekend. Sesudah menaruh tas bawaanku, menghempaskan badan dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel John Grisham kegemaranku.

Belom lagi selesai membaca satu paragraph aqu dikejutkan sapaan suara halus:
“Maaf, apakah tak keberatan kalo kita bertukar bangku?” aqu menengadah, terkejut dan terpana! begitu mengetahui si pemilik suara.
” Hmm..sure..ehh maaf..tak, maksud saya tak apa-apa” jawabku dgn gagap.

Dia cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia lebih kurang 170, putih, postur yg proporsional dgn rambut hitam lurus sebahu bak bintang iklan shampoo! Usianya kira-kira sekitar akhir 20an mengenakan baju krem ketat dan celana hitam yg juga ketat sehingga menonjolkan semua lekak-lekuk badannya! Sewaktu aqu berdiri bertukar bangku, semilir tercium aroma parfum lembut yg tak tahu apa merknya, yg pasti pas sekali dgn penampilannya.

“Maaf megagnggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalem perjalanan, kalo dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala” Ia menjelaskan sembari meminta maaf.

“Gag apa-apa kok” sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya gumamku dalem hati. Sesudah selesai merapihkan bawaannya Iapun duduk dan membuka Elle edisi Australia yg dibawanya. Kitapun tenggelam dgn bacaan masing-masing. Ingin rasanya aqu menutup John Grisham-ku dan memulai pembicaraan dgnnya tetapi melihat Ia begitu asik dgn Elle-nya niat itu pun aqu urungkan. Kesempatan itu muncul sewaktu pesanan makanan kita tiba,

“Suka juga roti isi” tanyaqu membuka pembicaraan

“Iya, tak tahu kenapa aqu suka sekali roti isi di kereta, padahal rasanya biasa-biasa aja” jawabnya

“Mungkin suasana kereta membuatnya enak” lanjutku sekenanya

“Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Venti” sembari menjulurkan tangannya

“Rendra, gag pake Mas” sahutku sembari menyambut tangannya

“Hihihi” tawanya renyah

“Kamu lucu juga, dalem rangka apa ke Bandung”

“Main-main aja kangen sama Bandung dan sohib-sohib” jawabku.

“Venti sendiri ke Bandung dalem rangka apa” tanyaqu.

“Tugas kantor” jawabnya singkat tegas sepertinya egagn untuk menceritakan pekerjaannya.

“Tigagl dimana Ven di Bandung” Ia menyebutkan salah satu hotel berbintang di Dago

“Lho kok sama? aqu juga di kamar 313” suatu kebetulan yg mengejutkan

“Oh ya?!! satu lantai pula” ujar Venti tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selepas makan kita tak lagi membuka bacaan masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dgn lancar diselingi dgn joke-joke nakal yg ternyata disukainya. Perbendaharaanku yg satu ini cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kita yg ada dikereta.

AGEN BANDAR POKER - Venti bahkan tak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit kecil lenganku manakala ada joke yg “sangat” nakal. Tanpa terasa kita tiba di stasiun Bandung tepat jam 16.30, kita naik mobil jemputan hotel sembari terus bercengkerama dgn lebih akrab lagi.

Di hotel kita berpisah, kamarku dikanan lift sementara Venti dikiri. Dikamar aqu langsung merebahkan diri membaygkan Venti dan mengingat-ingat semua kejadian di kereta, di mobil dan di lift aqu memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalo bisa lebih dari itu. Karenanya aqu urungkan menghubungi sohib-sohibku. Dan terlelap dgn senyum terukir di bibirku.

Jam 19.00 aqu dikejutkan oleh dering telepon, belom lagi ‘napak bumi’ aqu angkat telepon

“Hallo” jawabku dgn suara ngantuk.

“Hi Ren tidur ya?sorry ganggu” terdengar suara halus diseberang. Venti!! langsung aqu bangkit

“Is ok, aqu juga niatnya bangun jam segini tapi lupa pesan di front office tadi” jawabku.

“Ada apa Ven?”

“Kamu jadi gag ketemuan sama sohib-sohib Ren?”

“Hmm..aqu belom sempat call mereka, ketiduran”

“Gimana kalo malam ini datang sama aqu, soalnya aqu gag jadi dinner meeting”

“Saygkan dandananku kalo harus dihapus” lanjutnya dgn tawanya yg khas

AGEN BANDARQ - Aqu shock mendengarkan ajakannya sampai-sampai tak tahu harus berkata apa

“Halloo..anybody home? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan

“Ooohh maaf..terkejut..soalnya surprise..kaya ketiban bulan, diajak datang bidadari” jawabku.
“Dasarr..kamu tuh..ketiban aqu baru rasa, cepat mandi dong, casual aja ya” menutup pembicaraan.

Tak usah disuruh dua kali aqupun langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ‘sudut’ badan dan langsung menuju kekamarnya. Sewaktu pintu terbuka aqu hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yg ‘casual’, Venti mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dgn dgn belahan dipaha kiri depan yg cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat dibadannya dgn bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan.

“Hii..kok bengong lagi sih” tegur Venti menyadarkan aqu dan kitapun segera bergegas. Sesudah puas menyantap soto sulung dan sate ayam dipojok jl. Merdeka kita lanjutkan menghabiskan malam disalah satu kafe di daerah Gatsu, Venti memilih seat di bar yg sedikit memojok dgn cahaya lampu yg minim. Aqu memesan tequila orange double dgn ekstra es sementara Venti memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kita harus berbicara dgn merapatkan telinga dgn lawan bicara, sewaktu itulah, aqu mencium aroma parfum malamnya, ditambah dgn nafas yg menerpa telingaqu sewaktu berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yg menggetarkan bagian sensitif dibadanku.

Sewaktu band memainkan lagu yg disukainya Venti turun dari kursi, bergoyg mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yg menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis tetapi tak memberikan kesan vulgar, dan sewaktu kita ‘turun’ ditempat (bukan di dance floor)-lebih tepat disebut berpelukan dgn sedikit gerakan-buah dadanya sesekali menyentuh badanku, aqu merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh badanku.

Tak tahu pada ‘turun’ yg keberapa kali aqu memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan..

“Ehh..” hanya itu yg keluar dari bibirnya yg sensual.

Seolah mendapat ijin aqupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, sesudah itu Ventilah yg memberikan kecupan-kecupan kecil di bibirku..Malam yg indah.

Sebelom tengah malam kita meninggalkan kafe, dalem taksi menuju hotel Venti menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tak aqu sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kita perpandangan, bibirnya bergetar, Venti memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yg semakin lama berganti dgn pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yg sesekali mengintip lewat kaca spion. Lidah kitapun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dgn lembut, belom sempat bertindak lebih tak terasa taksi kita sudah sampai di hotel.

Kitapun bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yg kita laqukan di taksi, kusandarkan badannya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Rendra..eehh..” desahnya. Keluar lift Venti menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Venti langsung menarik kepalaqu memagut bibirku dgn bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku tetapi lebih liar lagi.

Kusandarkan badannya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yg begitu kenyal. Kemaluanku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aqu ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Venti sembari menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kita beradu-meskipun masih terbungkus-membuat desiran darah kita meningkat dan semakin memanas sewaktu kita menggesek-gesekannya.

“Ahh..Ren..” desah Venti kembali dan sewaktu itu kurasakan lidahnya yg hangat basah menjalar di telingaqu melingkar-lingkar di leherku.

“Eeehh..aahh..” giliran aqu yg mendesah merasakan permainan lidahnya.

Lidahnya semakin turun kedadaqu sementara jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan.. lidahnya berpindah keputing dadaqu, berputar-putar jalang, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil.

“Terus Ven..teruss..ahh..” suaraqu bergetar meminta meneruskan kenikmatan yg diberikan mulutnya. Kurasakan Venti semakin liar memainkan mulutnya yg semakin turun.

Ia berlutut sewaktu lidahnya meliuk-liuk di pusar sembari tangannya membuka celanaqu. Venti meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kemaluanku yg masih terbungkus CD dan sesudah itu Ia memasukan tangannya kedalem CD dan mengeluarkan milikku yg sudah membatu. Ia menggegagm dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kemaluanku yg sudah basah menimbulkan rasa ngilu yg nikmat..dan..akhirnya..lidahnya berputar-putar disana.

“..aakhh..sshh..” desahku tak tertahan manakala lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh gagang dan buah zakar.

“Enakk Ven.. aahh..kamu pintar sekalii..hisap cantik..hisapp..” aqu meracau tak karuan memintanya melaqukan lebih lagi.

Venti mengerti betul apa yg harus dilaqukannya, dikecupnya kepala kemaluanku dan dimasukannya..hanya sebatas itu!dan mulai menghisap-hisap sembari tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar..serangan ganda!!sunguh nikmatt!! Sesudah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh badanku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yg halus dan menggegagmnya, dgn demikian memudahkan aqu mengatur gerakan kepalanya.

Tetapi semakin lama genggamanku tak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat badanku serasa melayg-layg, semakin aqu mengerang kenikmatan semakin cepat Venti menggerakan ritme kocokannya.

“Nikmat Ven..ahh..lagi..lebih cepat..oohh” pintaqu diselah-selah erangan yg semakin tak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aqu tak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.

Kuangkat badannya dan kupeluk mesra.

“Suka?” bisiknya bertanya.

“Suka sekali..kamu hebat..” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya.

“Ooohh..” erang Venti.

Kubalas apa yg Ia laqukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan bra 34b-nya, dua bukit kenikmatannya yg bulat putih itupun menyembul dgn puting kecil pinkies yg sudah mengeras.

Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya

“Eeehh..Rendra..” lenguh Venti dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya

“Auuhh..akkhh..” erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalem mulutku.

“Aaaghh.. Ren..aauuhh..kamu ganaas..”jeritnya.

Puas melumat buah kenikmatannya gilirin aqu yg berlutut sembari melepas roknya, tampaklah CD mini putih menutupi kemaluannya. Kuelus-elus bagian yg terhimpit paha dgn jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi CDnya sehingga menyentuh daging lembut basah.

“Rendra..uugghh..” kembali erangan birahi keluar dari mulutnya Sewaktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kemaluannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalem paha mulusnya. Beberapa sewaktu kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kemaluannya dgn klitoris yg yg menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga leluasa aqu melihat seluruh bagian kenikmatannya.

Aqupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya.

“Aaa..Rendrraa..” jerit Venti tertahan sembari menjambak rambutku yg panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kemaluannya yg semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalemnya.

“Ssshh..eehh” desis Venti merasakan hisapanku yg kuat di lubang kenikmatannya.

Kubuka bibir kemaluannya dan menjulurkan lidahku lebih dalem dalem lagi Ventipun membalas dgn menyorongkannya kemukaqu, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaqu sehingga memudahkan aqu “memakan” semua kemaluannya.

“Rendrraa..stopp..aahh..aqu gag tahann..” aqu tak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila

“My godd..Renn..shhff..pleasee..stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kemaluannya.

AGEN POKER - Aqupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan badannya ditempat tidur dan kitapun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas bagian-bagian sensitif kita.

“Sekarang Ren..sekarang.. pleasee..” pintanya berbisiknya. Aqu merayap naik kebadannya, Venti membuka lebar kedua kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kemaluanku memasuki mulut kemaluannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar masuk dgn perlahan.

“Ooohh yaa..Renn..enakk..” Ventipun mulai mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku tak henti-hentinya mengulum buah dadanya.

“Aagghh..terus Ren..lebih dalemm..aagghh..” pintanya, kutekan gagang kemaluanku lebih dalem dan..
“Ssshh..”desisku merasakan kenikmatan rogag kemaluanya yg sempit meremas-remas sekujur gagang kemaluanku.
“Aaaugghh..punya kamu enak Ven..” aqupun semakin kencang memacu badanku membuat Venti semakin mengelepar-gelepar.

“Ahh..oucchh..nikmat Ren..sshh..” desahnya merasakan gesekan-gesekan gagang kemaluanku di dinding kemaluannya. Sewaktu kita merasakan nikmatnya kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kita saling menghisap, memagut bahkan mengigit dgn liarnya..dan..

“Ugghh..Renn..fuck me..fuck me hard..I’m comingg honey..” badan Venti mengejang dan tangan serta kakinya memeluk badanku dgn kencang

“Ouchh..oohh..aqu keluar Renn..aaghh..” Iapun kejang sesewaktu kurasakan denyut-denyut di kemaluannya dan..badan Ventipun lungai.

“Maaf Ren aqu duluan..gag tahan, habis udah lama gag..” bisiknya, aqu masih diatasnya dgn kemaluan yg masih terbenam didalem kemaluannya.

“Gag apa-apa Ven perempuankan multiple orgasm, masih ada yg kedua dan seterusnya kok..” jawabku menggoda.

“Memangnya kuat..?” tantangnya.

“Lihat aja nanti..” membalas tantangannya.

“Ihh..itu sih doyan ..” seru Venti manja sembari mencubit pigagngku. Kubalas cubitannya dgn memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai berputar-putar perlahan.

“..Mmhhff..” kupagut bibirnya, lidah kitapun saling bertaut, meliuk dgn panasnya. Birahi kitapun kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya dgn putaran pinggulnya membuatku melayg-layg.

“Shhff..agghh..ouch..” desahanpun tak tertahan keluar keluar dari mulutku. Dgn bahasa badan Venti mengajak pindah posisi, Ia diatas memegang kendali.

Venti menekan kemaluanya dalem-dalem-sehingga kemaluanku menyentuh ujung lorong kenikmatannya-dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju. Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aqu menahan hentakan-hentakan kenikmatan yg keluar dari seluruh sendi-sendi badanku.

“..teruss Ven..aahh..lagi Ven..oohh..punya kamu enak..” rintihku.

“..punya kamu juga Renn.. oucchh.. want me to fuck you hardd.. mmhh..” tak perlu jawabanku, dgn di topang tangannya Venti membungkuk tambah mempercepat ayunannya. Buah dadanya yg indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yg lainnya kulumat dgn raqus.

“Ouchh..Rennoo..nikmatt..lumat semua Renn..auuhh..” jerit Venti sembari merendahkan badannya memudahkan aqu melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tak terkendali, tak berapa lama kemudian badannya kembali mengejang, Venti menekan dalem-dalem kemaluannya menelan seluruh gagang kenikmatanku.

“Renn..aqu keluarr lagi..AAKKHH..” teriak Venti, badannya pun rubuh diatasku cairan kenikmatannya kurasakan membasahi kemaluanku.

Venti rebah diatasku badannya bagai tak bertulang, hanya desah napasnya menerpa dadaqu. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian

“Punya kamu masih keras Ren..belom keluar?”

“Aqu tak ingin kenikmatan ini cepat berakhir” bisikku sembari mengecup pipinya.

“Mmmhh..” Venti bergumam

“Aqu juga..” bisiknya sembari mengigit mesra leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa sewaktu, gigitan dan kecupan mesra itu kembali menjadi pagutan birahi.

Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan dan desahan kenikmatan duniawi, kemaluanku yg masih berada didalem kembali merasakan bagaimana nikmat yg diberikan oleh kemaluannya. Aqu bangun sembari mendorong badan Venti sehingga kita berada dalem posisi duduk, satu tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah bookongnya yg bulat padat.

Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rogag kenikmatannya seakan melumat seluruh gagang kemaluanku, “Agghh..sshh.. Reenn..” rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dgn menggoyg-goygkan pinggulku sembari kuhisap putingnya dalem-dalem.”Reenn..achh..shh..fuck me..hardd..”

Kurasakan gerakan badan Venti semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya semakin megagnas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku. Aqupun tak sanggup lagi menahan kenikmatan yg diberikan oleh Venti, kurebahkan badannya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di pinggulku dan kitapun kembali mendaki puncak kenikmatan. Gagang kemaluanku tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Venti dgn keras, Ia tak tigagl diam, diputar-putar pinggulnya seirama tikaman-tikamanku

“Aghh..ngg..sshh..Venn..nikmat sekali..putarr teruss Venn..” pintaqu merintih-rintih.

“Auugghh..Renn..tekan yg dalemm ..” kita tenggelam dalem gelimang birahi yg memuncak..dan..

“Venti..aquu mau keluar..” kurasakan kejantanku bertambah besar.

“Yess..yess..I’m coming too honey..” kita berpelukan dgn kuatnya dan secara bersamaan mengejang.

“AAKKHH..punya kamu enak sekalii Venn..”pekikku, kutekan dalem-dalem kemaluanku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar membasahi relung-relung kemaluannya,

“Aauughh Renn..nikmatt..sshhekallii..AAKKGGHH..” Kitapun terkapar lemas.

DOMINOQQ - Sesudah malam panjang yg indah itu kita tak henti-hentinya mengulangi lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua sudut dikamar hotel itu bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi kita. Bandung kembali memberi coretan khusus dalem hidupku membuat keterikatanku semakin besar yg tak akan pernah kulupakan seumur hidup.



klik di sini

klik di sini









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menikmati kehangatan liang kemaluan tante

                                            Menikmati kehangatan liang kemaluan tante